Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Editors Pick » Inflasi Sarjana:  Generasi Unggul di Ijazah, Gagap di Kehidupan

Inflasi Sarjana:  Generasi Unggul di Ijazah, Gagap di Kehidupan

  • account_circle Beritawarga
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran

Di panggung-panggung wisuda, kita menyaksikan parade keberhasilan yang tampak nyaris sempurna. Toga dikenakan dengan khidmat, senyum merekah, dan predikat cumlaude disebut berulang-ulang, seolah menjadi mantra yang menjanjikan masa depan.

Namun di luar gedung itu, dunia tidak selalu memberi karpet merah. Ia seringkali menghadirkan jalan berliku, penuh ketidakpastian—dan di sanalah sebagian dari mereka mulai tersendat.

Kita sedang berada dalam pusaran yang bisa disebut sebagai inflasi nilai. Ketika terlalu banyak “nilai tinggi” beredar, tetapi daya gunanya menurun. Ijazah menjadi melimpah, predikat unggul menjadi umum, tetapi relevansi kompetensi justru dipertanyakan.

Seperti mata uang yang kehilangan daya beli karena dicetak berlebihan, nilai akademik pun kehilangan makna ketika ia tidak lagi merepresentasikan kemampuan yang dibutuhkan dalam kehidupan nyata.
Fenomena ini tidak lahir dari ruang hampa.

ia adalah hasil dari sistem pendidikan yang terlalu lama memuja angka, mengukur kecerdasan dengan standar seragam, dan mengabaikan keragaman potensi manusia. Kampus menjadi pabrik legitimasi, tempat di mana keberhasilan didefinisikan oleh IPK, bukan oleh kedalaman berpikir atau ketangguhan menghadapi realitas.

Dalam sistem seperti ini, mahasiswa belajar untuk menjawab soal—bukan untuk memahami persoalan. Akibatnya, lahirlah generasi yang unggul di atas kertas, tetapi canggung ketika harus berhadapan dengan ketidakpastian  kehidupan.

Dunia kerja tidak memberikan soal pilihan ganda, tidak menyediakan kisi-kisi, dan tidak mengenal sistem remedial. Ia menuntut kemampuan mengambil keputusan dalam ketidakpastian, beradaptasi dengan perubahan cepat, dan berkolaborasi dengan manusia lain yang berbeda latar belakang.

Di titik ini, banyak yang merasa kehilangan pijakan Dan di antara mereka, ada para sarjana pendidikan yang dulu diyakinkan bahwa jalan hidupnya terang sebagai “pencetak masa depan bangsa.”

Namun kenyataan berkata lain. Mereka berdiri di ruang kelas sebagai guru honorer, dengan pengabdian yang seringkali lebih besar daripada penghargaan yang diterima. Mereka menggantungkan harapan pada skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), menanti pengakuan negara yang tak kunjung pasti. Tetapi bahkan ketika peluang itu datang, realitas ekonomi kerap terasa getir  Penghasilan yang diterima tidak selalu sebanding dengan beban kerja dan tanggung jawab yang dipikul.

Rasanya miris membandingkan, misalnya dengan gaji karyawan SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) bervariasi antara Rp2 juta hingga Rp8 juta per bulan, bergantung pada posisi, pengalaman, dan lokasi kerja.

Posisi supervisor/kepala SPPG berkisar Rp4-7 juta, juru masak Rp3-5 juta, sementara tim packing/distribusi sekitar Rp2,1-4,5 juta. Sementara tenaga pendidik honorer/P3K masih ada bergaji 250 atau 500 ribu/bulan.

Pertanyaan pun mengemuka, lirih tapi menggugat di manakah letak kesalahannya?

Apakah pada mereka yang memilih jalan pengabdian, atau pada sistem yang belum sepenuhnya menghargai profesi pendidikan sebagai fondasi bangsa?

Ada ironi yang sulit disangkal. Di satu sisi, kita terus menyerukan pentingnya pendidikan, memuliakan guru dalam pidato-pidato resmi, dan menempatkan mereka sebagai pilar peradaban.

Namun di sisi lain, kita membiarkan sebagian dari mereka hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Bahkan dalam beberapa kasus, pendapatan mereka kalah dibandingkan profesi lain yang tidak melalui proses pendidikan panjang dan spesifik. Di titik ini, inflasi nilai menemukan wajahnya yang paling nyata..Ketika gelar sarjana tidak lagi menjamin martabat ekonomi.

Namun, menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai “ketimpangan gaji” juga tidak cukup. Ini adalah soal desain besar: bagaimana negara memetakan kebutuhan tenaga kerja, bagaimana sistem pendidikan menyiapkan lulusan, dan bagaimana pasar kerja menyerap mereka.

Ketika ketiganya tidak selaras, maka yang lahir adalah kelebihan pasokan di satu sisi dan kekurangan kompetensi di sisi lain.
Sarjana pendidikan tidak kekurangan ilmu, tetapi seringkali kekurangan ruang. Mereka tidak kehilangan kemampuan, tetapi kehilangan peluang yang adil. Sementara itu, sistem rekrutmen dan distribusi tenaga pendidik masih menghadapi tantangan panjan.

Dari birokrasi, keterbatasan anggaran, hingga kebijakan yang belum sepenuhnya berpihak pada kualitas dan kesejahteraan.
Kita perlu keberanian untuk melihat ini secara jernih. Bahwa inflasi nilai bukan hanya soal kampus yang terlalu mudah memberi predikat tinggi, tetapi juga soal negara dan masyarakat yang belum sepenuhnya membangun ekosistem yang menghargai kompetensi secara proporsional. Maka, redefinisi “unggul” menjadi keniscayaan. Unggul bukan sekadar tentang IPK tinggi, tetapi tentang kemampuan memberi dampak nyata.

Unggul bukan hanya tentang lulus tepat waktu, tetapi tentang kesiapan menghadapi kehidupan yang tidak pernah pasti. Dan bagi para sarjana pendidikan yang tetap memilih menjadi guru, meski dalam keterbatasan—barangkali di situlah letak keunggulan yang sesungguhnya.

Bukan pada angka di ijazah, tetapi pada keberanian untuk tetap mengabdi di tengah ketidakpastian. Mereka mungkin tidak selalu menang dalam hitungan ekonomi, tetapi mereka sedang menanam sesuatu yang jauh lebih panjang usianya yaitu masa depan generasi.

Namun pengabdian tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan. Negara harus hadir, bukan hanya dalam retorika, tetapi dalam kebijakan yang konkret dan adil. Karena jika tidak, kita akan terus memproduksi ironi: generasi yang dididik oleh mereka yang sendiri belum sepenuhnya dimuliakan.

Di akhirnya, inflasi nilai mengajarkan kita satu hal penting: bahwa kualitas manusia tidak boleh direduksi menjadi angka, dan martabat profesi tidak boleh ditentukan oleh seberapa murah ia bisa dibayar.
Sebab jika guru saja harus berjuang untuk hidup layak, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan itu sendiri.
__________
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban.”

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebakaran di Ponpes Hidayatullah Mamuju

    Kebakaran di Ponpes Hidayatullah Mamuju

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle Beritawarga
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Beritawarga_Mamuju,- Enam kelas dan satu bangunan yang juga kantor Baitul Maal pondok pesantren Hidayatullah kelurahan karema, kabupaten Mamuju terbakar. Minggu (19/04/2026) Kebakaran tersebut membuat warga sekitar pasar panik karena khawatir akan merembet ke bangunan lain. Tim Pemadam kebakaran dari Pemkab Mamuju bergerak cepat menuju lokasi kejadian memaaamkan api. Namun Api begitu cepat membakar bangunan kelas […]

  • Ini jadwal Pemberangkatan JCH Mamuju

    Ini jadwal Pemberangkatan JCH Mamuju

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle Beritawarga
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Beritawarga_Mamuju,- Persiapan pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 untuk pemberangkatan jemaah calon haji kabupaten Mamuju telah mencapai 99 persen. hal tersebut diungkapkan oleh kepala Kantor Kementerian Haji dan Murah Kabupaten Mamuju Kuddus. Kamis(16/04/2026) Kuddus menyampaikan seluruh jemaah calon haji dinyatakan sehat dan layak untuk berangkat. kloter 12 akan berangkat pada tanggal 27 April 2026 dari Mamuju […]

  • Demo di Kemenag Sulbar Berujung Ricuh

    Demo di Kemenag Sulbar Berujung Ricuh

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Beritawarga
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Beritawarga_Mamuju,- Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamuju di Kantor Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat berlangsung ricuh. Kamis(16/04/2026) Kericuhan terjadi saat massa aksi melakukan pembakaran ban sebagai bentuk protes terhadap kebijakan dan dugaan praktik tidak profesional di tubuh Kementerian Agama. Insiden bermula ketika aparat kepolisian berupaya memadamkan api dari pembakaran ban. […]

  • Kapolsek Pastikan Isu Penculikan Anak di Kalumpang Hoax

    Kapolsek Pastikan Isu Penculikan Anak di Kalumpang Hoax

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle Baritawarga
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Beritawarga_Mamuju,- Menanggapi informasi yang viral dan beredar di media sosial terkait adanya dugaan pelaku penculikan anak-anak yang diamankan di wilayah hukum Polsek Kalumpang Mamuju. Dikonfirmasi Kapolsek Kalumpang Iptu Asrul Asfah memberikan klarifikasi kepada seluruh masyarakat bahwa informasi tersebut adalah tidak benar atau hoax. Fakta yang sebenarnya, pihaknya telah mengamankan seorang pria yang diketahui mengalami gangguan […]

  • Seorang Ibu Pingsan Saat Antre BBM di SPBU Polewali

    Seorang Ibu Pingsan Saat Antre BBM di SPBU Polewali

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Beritawarga
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Beritawarga_Polman,- Seorang Ibu rumah tangga jatuh pingsan saat antre di salah satu SPBU di Polman. ibu-ibu tersebut mendadak lemas dan tak sadarkan diri ditengah kerumunan warga yang sedang mengantre BBM.Jumat (03/04/2026) Melihat kejadian tersebut sejumlah pengendara bergerak cepat membantu dan mengangkat korban ke Mushallah terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Menurut salah seorang petugas SPBU Natas, […]

  • Hidayat Faturrahman Tampil Spektakuler Pada Hari Tari Internasional Bawakan Tari Pappapia Lomo Anjoro

    Hidayat Faturrahman Tampil Spektakuler Pada Hari Tari Internasional Bawakan Tari Pappapia Lomo Anjoro

    • calendar_month Senin, 11 Mei 2026
    • account_circle Baritawarga
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Beritawarga_Mamuju,- Di usianya yang baru 13 tahun, Hidayat Faturrahman, siswa kelas 7 SMPIT Buah Hati Mamuju, menjalani hari-hari layaknya remaja seusianya. Pergi dan pulang sekolah masih diantar orang tua, aktif bergaul dengan teman-temannya, dan dikenal ramah dengan orang di sekitarnya. Namun siapa sangka, di balik sosok sederhana itu, Hidayat telah menorehkan sederet prestasi membanggakan hingga […]

expand_less