Hidayat Faturrahman Tampil Spektakuler Pada Hari Tari Internasional Bawakan Tari Pappapia Lomo Anjoro
- account_circle Baritawarga
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Beritawarga_Mamuju,- Di usianya yang baru 13 tahun, Hidayat Faturrahman, siswa kelas 7 SMPIT Buah Hati Mamuju, menjalani hari-hari layaknya remaja seusianya. Pergi dan pulang sekolah masih diantar orang tua, aktif bergaul dengan teman-temannya, dan dikenal ramah dengan orang di sekitarnya.
Namun siapa sangka, di balik sosok sederhana itu, Hidayat telah menorehkan sederet prestasi membanggakan hingga tingkat internasional di bidang modeling dan seni budaya. Menariknya, setiap penampilannya selalu membawa nuansa kearifan lokal Indonesia, khususnya budaya Mandar dari Sulawesi Barat.
Sejak tahun 2022, berbagai gelar bergengsi berhasil ia raih. Di antaranya:
Winner Little Mister Grand Model Indonesia 2022 mewakili Sulawesi Barat di Jakarta.
Winner Junior Glam International 2023 mewakili Indonesia di Manila, Filipina.
Winner Putera Kebudayaan Cilik Indonesia 2024 mewakili Sulawesi Barat di Bandung.
Winner Putera Kebudayaan Cilik Nusantara 2025 mewakili Sulawesi Barat di Jakarta.
Prestasi itu belum berhenti. Pada Juli 2026 mendatang, Hidayat kembali dipercaya membawa nama Indonesia dalam ajang internasional “World Junior Tourism Ambassador 2026” di Vietnam.
Tak hanya di dunia modeling, Hidayat juga sukses mencuri perhatian di bidang seni tari. Baru-baru ini, ia tampil memukau di Universitas Negeri Makassar setelah diundang langsung oleh Fakultas Seni dalam peringatan Hari Tari Internasional.(06/05/2026)
Dalam kesempatan tersebut, Hidayat membawakan Tari Pappapia Lomo Anjoro, tarian khas Mandar yang mengangkat proses pembuatan minyak kelapa tradisional. Mulai dari mengambil buah kelapa, mengupas, memarut, hingga memasaknya menjadi minyak siap pakai.
Di balik gerakan tari itu tersimpan cerita tentang kerja keras, ketekunan, dan perjuangan masyarakat tempo dulu.
Yang membuat penampilannya semakin luar biasa, Hidayat hanya membutuhkan waktu tujuh hari untuk menguasai seluruh gerakan tari tersebut.
Dengan balutan gerak yang ekspresif dan penuh makna, tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga menceritakan nilai kerja keras, kebersamaan, dan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Melalui penampilannya, Hidayat Faturrahman diharapkan mampu memperkenalkan serta mengangkat budaya Mandar ke panggung yang lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian seni tradisi di tengah perkembangan zaman.
Meski terbilang singkat, ia mampu tampil percaya diri dan memukau penonton yang hadir. Kini, remaja berbakat asal Mamuju itu kembali fokus mempersiapkan diri menuju panggung internasional di Vietnam.
Dengan semangat dan kerja kerasnya, Hidayat Faturrahman bukan hanya membawa nama Sulawesi Barat, tetapi juga memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.(*)
- Penulis: Baritawarga
- Editor: Tim Rerdaksi
- Sumber: Tim liputan


