Bukan Sekadar Gemar Makan Ikan, Ini Soal Martabat dan Masa Depan Nelayan
- account_circle Beritawarga
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Bukan Sekadar Gemar Makan Ikan, Ini Soal Martabat dan Masa Depan Nelayan!”
Oleh Muliadi Saleh — Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Beritawarga_Mamuju,- Dihadapan ibu-ibu dan anak-anak nelayan, di sela program GEMARIKAN yang tampak sederhana, Dr.Ir. H. Agus Ambo Djiwa, M.P, Anggota DPR RI Komisi IV menyampaikan sesuatu yang jauh melampaui ajakan makan ikan. Ia menggeser makna dari gizi ke martabat, dari konsumsi ke keadilan.
“Bukan sekadar gemar makan ikan,” katanya, “ini soal masa depan.”
Bahwa selama ini kita menikmati hasil laut tanpa benar-benar memikirkan siapa yang menghadirkannya. Nelayan, dalam banyak kebijakan, sering hadir sebagai pelengkap, bukan pusat. Padahal, dari tangan merekalah rantai gizi bangsa dimulai.
Dalam perannya di , ia membaca masalah ini secara utuh. GEMARIKAN tidak cukup berhenti pada peningkatan konsumsi ikan. Ia harus berdiri di atas fondasi kesejahteraan nelayan. Tanpa itu, gerakan ini akan kehilangan ruhnya.
Karena di laut, tidak ada yang benar-benar pasti—kecuali risiko.
Maka ketika ia mendorong asuransi nelayan, itu bukan sekadar program tambahan. Itu adalah pengakuan negara atas kerja berisiko tinggi yang selama ini dijalani tanpa perlindungan memadai. Keselamatan, dalam perspektifnya, adalah hak dasar—bukan hadiah.
Namun yang lebih jauh, ia melihat masa depan pada anak-anak nelayan.
Di sanalah pertaruhan terbesar bangsa. Jika mereka tumbuh dalam lingkaran kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan gizi yang tidak memadai, maka kita sedang mewariskan ketimpangan. Tetapi jika mereka disentuh oleh pendidikan, beasiswa, dan perhatian negara—maka dari pesisir yang sederhana itu bisa lahir generasi tangguh yang mengubah arah sejarahnya sendiri.
Di titik ini, gagasan GEMARIKAN adalah pintu masuk, bukan tujuan akhir.
Ia membuka kesadaran tentang pentingnya ikan bagi tubuh, tetapi juga harus membuka jalan bagi kesejahteraan nelayan, kesehatan ibu, dan kualitas sumber daya manusia. Karena bangsa yang kuat tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan, tetapi oleh siapa yang menghidupi rantai kehidupan itu.
Agus Ambo Djiwa memahami satu hal mendasar: jika nelayan sejahtera, maka gizi terjaga. Jika ibu sehat, maka generasi kuat. Jika anak-anak nelayan cerdas, maka masa depan bangsa tidak lagi rapuh.
Dan dari sanalah, sebuah kalimat sederhana berubah menjadi sikap politik yang tegas—bahwa makan ikan bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan bagian dari perjuangan memulihkan martabat mereka yang selama ini bekerja dalam sunyi.
Sebab di balik setiap ikan yang tersaji, ada kehidupan yang dipertaruhkan. Dan negara, tak boleh lagi abai.
Muliadi Saleh
“Menulis Makna, Membangun Peradaban.”
- Penulis: Beritawarga
- Editor: Redaksi
- Sumber: Muliadi Saleh


